Salah satu tema utama sekaligus prinsip pokok dalam ajaran Islam adalah persamaan antara manusia, baik antara lelaki dan perempuan maupun antar bangsa, suku dan keturunan. Perbedaan yang digarisbawahi dan yang kemudian meninggikan atau merendahkan seseorang hanyalah nilai pengabdian dan ketakwaannya kepada Tuhan Yang Mahaesa.
Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (terdiri) dari lelaki dan perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal, sesungguhnya yang termulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa (QS 49: 13).
Kedudukan perempuan dalam pandangan ajaran Islam tidak sebagaimana diduga atau dipraktekkan sementara masyarakat. Ajaran Islam pada hakikatnya memberikan perhatian yang sangat besar serta kedudukan terhormat kepada perempuan.
Muhammad Al-Ghazali, salah seorang ulama besar Islam kontemporer berkebangsaan Mesir, menulis: "Kalau kita mengembalikan pandangan ke masa sebelum seribu tahun, maka kita akan menemukan perempuan menikmati keistimewaan dalam bidang materi dan sosial yang tidak dikenal oleh perempuan-perempuan di kelima benua. Keadaan mereka ketika itu lebih baik dibandingkan dengan keadaan perempuan-perempuan Barat dewasa ini, asal saja kebebasan dalam berpakaian serta pergaulan tidak dijadikan bahan perbandingan."190
Almarhum Mahmud Syaltut, mantan Syaikh (pemimpin tertinggi) lembaga-lembaga Al-Azhar di Mesir, menulis: "Tabiat kemanusiaan antara lelaki dan perempuan hampir dapat (dikatakan) sama. Allah telah menganugerahkan kepada perempuan sebagaimana menganugerahkan kepada lelaki. Kepada mereka berdua dianugerahkan Tuhan potensi dan kemampuan yang cukup untuk memikul tanggung jawab dan yang menjadikan kedua jenis kelamin ini dapat melaksanakan aktivitas-aktivitas yang bersifat umum maupun khusus. Karena itu, hukum-hukum Syari'at pun meletakkan keduanya dalam satu kerangka. Yang ini (lelaki) menjual dan membeli, mengawinkan dan kawin, melanggar dan dihukum, menuntut dan menyaksikan, dan yang itu (perempuan) juga demikian, dapat menjual dan membeli, mengawinkan dan kawin, melanggar dan dihukum serta menuntut dan menyaksikan."191
Banyak faktor yang telah mengaburkan keistimewaan serta memerosotkan kedudukan tersebut. Salah satu di antaranya adalah kedangkalan pengetahuan keagamaan, sehingga tidak jarang agama (Islam) diatasnamakan untuk pandangan dan tujuan yang tidak dibenarkan itu.
Berikut ini akan dikemukakan pandangan sekilas yang bersumber dari pemahaman ajaran Islam menyangkut perempuan, dari segi (1) asal kejadiannya, dan (2) hak-haknya dalam berbagai bidang.
Asal Kejadian Perempuan
Berbedakah asal kejadian perempuan dari lelaki? Apakah perempuan diciptakan oleh tuhan kejahatan ataukah mereka merupakan salah satu najis (kotoran) akibat ulah setan? Benarkah yang digoda dan diperalat oleh setan hanya perempuan dan benarkah mereka yang menjadi penyebab terusirnya manusia dari surga?
Demikian sebagian pertanyaan yang dijawab dengan pembenaran oleh sementara pihak sehingga menimbulkan pandangan atau keyakinan yang tersebar pada masa pra-Islam dan yang sedikit atau banyak masih berbekas dalam pandangan beberapa masyarakat abad ke-20 ini.
Pandangan-pandangan tersebut secara tegas dibantah oleh Al-Quran, antara lain melalui ayat pertama surah Al-Nisa':
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari jenis yang sama dan darinya Allah menciptakan pasangannya dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan lelaki dan perempuan yang banyak.
Demikian Al-Quran menolak pandangan-pandangan yang membedakan (lelaki dan perempuan) dengan menegaskan bahwa keduanya berasal dari satu jenis yang sama dan bahwa dari keduanya secara bersama-sama Tuhan mengembangbiakkan keturunannya baik yang lelaki maupun yang perempuan.
Benar bahwa ada suatu hadis Nabi yang dinilai shahih (dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya) yang berbunyi:
Saling pesan-memesanlah untuk berbuat baik kepada perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. (Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Tirmidzi dari sahabat Abu Hurairah).
Benar ada hadis yang berbunyi demikian dan yang dipahami secara keliru bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam, yang kemudian mengesankan kerendahan derajat kemanusiaannya dibandingkan dengan lelaki. Namun, cukup banyak ulama yang telah menjelaskan makna sesungguhnya dari hadis tersebut.
Muhammad Rasyid Ridha, dalam Tafsir Al-Manar, menulis: "Seandainya tidak tercantum kisah kejadian Adam dan Hawa dalam Kitab Perjanjian Lama (Kejadian II;21) dengan redaksi yang mengarah kepada pemahaman di atas, niscaya pendapat yang keliru itu tidak pernah akan terlintas dalam benak seorang Muslim."192
Tulang rusuk yang bengkok harus dipahami dalam pengertian majazi (kiasan), dalam arti bahwa hadis tersebut memperingatkan para lelaki agar menghadapi perempuan dengan bijaksana. Karena ada sifat, karakter, dan kecenderungan mereka yang tidak sama dengan lelaki, hal mana bila tidak disadari akan dapat mengantar kaum lelaki untuk bersikap tidak wajar. Mereka tidak akan mampu mengubah karakter dan sifat bawaan perempuan. Kalaupun mereka berusaha akibatnya akan fatal, sebagaimana fatalnya meluruskan tulang rusuk yang bengkok.
Memahami hadis di atas seperti yang telah dikemukakan di atas, justru mengakui kepribadian perempuan yang telah menjadi kodrat (bawaan)-nya sejak lahir.
Dalam Surah Al-Isra' ayat 70 ditegaskan bahwa:
Sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan (untuk memudahkan mencari kehidupan). Kami beri mereka rezeki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk-makhluk yang Kami ciptakan.
Tentu, kalimat anak-anak Adam mencakup lelaki dan perempuan, demikian pula penghormatan Tuhan yang diberikan-Nya itu, mencakup anak-anak Adam seluruhnya, baik perempuan maupun lelaki. Pemahaman ini dipertegas oleh ayat 195 surah Ali'Imran yang menyatakan: Sebagian kamu adalah bagian dari sebagian yang lain, dalam arti bahwa "sebagian kamu (hai umat manusia yakni lelaki) berasal dari pertemuan ovum perempuan dan sperma lelaki dan sebagian yang lain (yakni perempuan) demikian juga halnya." Kedua jenis kelamin ini sama-sama manusia. Tak ada perbedaan antara mereka dari segi asal kejadian dan kemanusiaannya.
Dengan konsideran ini, Tuhan mempertegas bahwa:
Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal, baik lelaki maupun perempuan (QS 3:195).
Pandangan masyarakat yang mengantar kepada perbedaan antara lelaki dan perempuan dikikis oleh Al-Quran. Karena itu, dikecamnya mereka yang bergembira dengan kelahiran seorang anak lelaki tetapi bersedih bila memperoleh anak perempuan:
Dan apabila seorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, hitam-merah padamlah wajahnya dan dia sangat bersedih (marah). Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak disebabkan "buruk"-nya berita yang disampaikan kepadanya itu. (Ia berpikir) apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup). Ketahuilah! Alangkah buruk apa yang mereka tetapkan itu (QS 16:58-59).
Ayat ini dan semacamnya diturunkan dalam rangka usaha Al-Quran untuk mengikis habis segala macam pandangan yang membedakan lelaki dengan perempuan, khususnya dalam bidang kemanusiaan.
Dari ayat-ayat Al-Quran juga ditemukan bahwa godaan dan rayuan Iblis tidak hanya tertuju kepada perempuan (Hawa) tetapi juga kepada lelaki. Ayat-ayat yang membicarakan godaan, rayuan setan serta ketergelinciran Adam dan Hawa dibentuk dalam kata yang menunjukkan kebersamaan keduanya tanpa perbedaan, seperti:
Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya ... (QS 7:20).
Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan keduanya dikeluarkan dari keadaan yang mereka (nikmati) sebelumnya ... (QS 2:36).
Kalaupun ada yang berbentuk tunggal, maka itu justru menunjuk kepada kaum lelaki (Adam), yang bertindak sebagai pemimpin terhadap istrinya, seperti dalam firman Allah:
Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya (Adam) dan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepadamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan punah?" (QS 20:120).
Demikian terlihat bahwa Al-Quran mendudukkan perempuan pada tempat yang sewajarnya serta meluruskan segala pandangan yang salah dan keliru yang berkaitan dengan kedudukan dan asal kejadiannya.
Hak-hak Perempuan
Al-Quran berbicara tentang perempuan dalam berbagai ayatnya. Pembicaraan tersebut menyangkut berbagai sisi kehidupan. Ada ayat yang berbicara tentang hak dan kewajibannya, ada pula yang menguraikan keistimewaan-keistimewaan tokoh-tokoh perempuan dalam sejarah agama atau kemanusiaan.
Secara umum surah Al-Nisa' ayat 32, menunjuk kepada hak-hak perempuan:
Bagi lelaki hak (bagian) dari apa yang dianugerahkan kepadanya dan bagi perempuan hak (bagian) dari apa yang dianugerahkan kepadanya.
Berikut ini akan dikemukakan beberapa hak yang dimiliki oleh kaum perempuan menurut pandangan ajaran Islam.
Hak-hak Perempuan dalam Bidang Politik
Salah satu ayat yang seringkali dikemukakan oleh para pemikir Islam dalam kaitan dengan hak-hak politik kaum perempuan adalah yang tertera dalam surah Al-Tawbah ayat 71:
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah awliya' bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh untuk mengerjakan yang ma'ruf, mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
Secara umum, ayat di atas dipahami sebagai gambaran tentang kewajiban melakukan kerja sama antarlelaki dan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan yang dilukiskan dengan kalimat menyuruh mengerjakan yang ma'ruf dan mencegah yang munkar.
Kata awliya', dalam pengertiannya, mencakup kerja sama, bantuan dan penguasaan, sedang pengertian yang dikandung oleh "menyuruh mengerjakan yang ma'ruf" mencakup segala segi kebaikan atau perbaikan kehidupan, termasuk memberi nasihat (kritik) kepada penguasa. Dengan demikian, setiap lelaki dan perempuan Muslimah hendaknya mampu mengikuti perkembangan masyarakat agar masing-masing mereka mampu melihat dan memberi saran (nasihat) dalam berbagai bidang kehidupan.193
Keikutsertaan perempuan bersama dengan lelaki dalam kandungan ayat di atas tidak dapat disangkal, sebagaimana tidak pula dapat dipisahkan kepentingan perempuan dari kandungan sabda Nabi Muhamad saw.:
Barangsiapa yang tidak memperhatikan kepentingan (urusan) kaum Muslim, maka ia tidak termasuk golongan mereka.
Kepentingan (urusan) kaum Muslim mencakup banyak sisi yang dapat menyempit atau meluas sesuai dengan latar belakang pendidikan seseorang, tingkat pendidikannya. Dengan demikian, kalimat ini mencakup segala bidang kehidupan termasuk bidang kehidupan politik.194
Di sisi lain, Al-Quran juga mengajak umatnya (lelaki dan perempuan) untuk bermusyawarah, melalui pujian Tuhan kepada mereka yang selalu melakukannya.
Urusan mereka (selalu) diputuskan dengan musyawarah (QS 42:38).
Ayat ini dijadikan pula dasar oleh banyak ulama untuk membuktikan adanya hak berpolitik bagi setiap lelaki dan perempuan.
Syura (musyawarah) telah merupakan salah satu prinsip pengelolaan bidang-bidang kehidupan bersama menurut Al-Quran, termasuk kehidupan politik, dalam arti setiap warga masyarakat dalam kehidupan bersamanya dituntut untuk senantiasa mengadakan musyawarah.
Atas dasar ini, dapat dikatakan bahwa setiap lelaki maupun perempuan memiliki hak tersebut, karena tidak ditemukan satu ketentuan agama pun yang dapat dipahami sebagai melarang keterlibatan perempuan dalam bidang kehidupan bermasyarakat --termasuk dalam bidang politik. Bahkan sebaliknya, sejarah Islam menunjukkan betapa kaum perempuan terlibat dalam berbagai bidang kemasyarakatan, tanpa kecuali.
Al-Quran juga menguraikan permintaan para perempuan pada zaman Nabi untuk melakukan bay'at (janji setia kepada Nabi dan ajarannya), sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Mumtahanah ayat 12.
Sementara, pakar agama Islam menjadikan bay'at para perempuan itu sebagai bukti kebebasan perempuan untuk menentukan pilihan atau pandangannya yang berkaitan dengan kehidupan serta hak mereka. Dengan begitu, mereka dibebaskan untuk mempunyai pilihan yang berbeda dengan pandangan kelompok-kelompok lain dalam masyarakat, bahkan terkadang berbeda dengan pandangan suami dan ayah mereka sendiri.195
Harus diakui bahwa ada sementara ulama yang menjadikan firman Allah dalam surah Al-Nisa' ayat 34, Lelaki-lelaki adalah pemimpin perempuan-perempuan... sebagai bukti tidak bolehnya perempuan terlibat dalam persoalan politik. Karena --kata mereka-- kepemimpinan berada di tangan lelaki, sehingga hak-hak berpolitik perempuan pun telah berada di tangan mereka. Pandangan ini bukan saja tidak sejalan dengan ayat-ayat yang dikutip di atas, tetapi juga tidak sejalan dengan makna sebenarnya yang diamanatkan oleh ayat yang disebutkan itu.
Ayat Al-Nisa' 34 itu berbicara tentang kepemimpinan lelaki (dalam hal ini suami) terhadap seluruh keluarganya dalam bidang kehidupan rumah tangga. Kepemimpinan ini pun tidak mencabut hak-hak istri dalam berbagai segi, termasuk dalam hak pemilikan harta pribadi dan hak pengelolaannya walaupun tanpa persetujuan suami.
Kenyataan sejarah menunjukkan sekian banyak di antara kaum wanita yang terlibat dalam soal-soal politik praktis. Ummu Hani misalnya, dibenarkan sikapnya oleh Nabi Muhammad saw. ketika memberi jaminan keamanan kepada sementara orang musyrik (jaminan keamanan merupakan salah satu aspek bidang politik). Bahkan istri Nabi Muhammad saw. sendiri, yakni Aisyah r.a., memimpin langsung peperangan melawan 'Ali ibn Abi Thalib yang ketika itu menduduki jabatan Kepala Negara. Isu terbesar dalam peperangan tersebut adalah soal suksesi setelah terbunuhnya Khalifah Ketiga, Utsman r.a.
Peperangan itu dikenal dalam sejarah Islam dengan nama Perang Unta (656 M). Keterlibatan Aisyah r.a. bersama sekian banyak sahabat Nabi dan kepemimpinannya dalam peperangan itu, menunjukkan bahwa beliau bersama para pengikutnya itu menganut paham kebolehan keterlibatan perempuan dalam politik praktis sekalipun.
Hak-hak Perempuan dalam Memilih Pekerjaan
Kalau kita kembali menelaah keterlibatan perempuan dalam pekerjaan pada masa awal Islam, maka tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa Islam membenarkan mereka aktif dalam berbagai aktivitas. Para wanita boleh bekerja dalam berbagai bidang, di dalam ataupun di luar rumahnya, baik secara mandiri atau bersama orang lain, dengan lembaga pemerintah maupun swasta, selama pekerjaan tersebut dilakukannya dalam suasana terhormat, sopan, serta selama mereka dapat memelihara agamanya, serta dapat pula menghindari dampak-dampak negatif dari pekerjaan tersebut terhadap diri dan lingkungannya.
Secara singkat, dapat dikemukakan rumusan menyangkut pekerjaan perempuan yaitu bahwa "perempuan mempunyai hak untuk bekerja, selama pekerjaan tersebut membutuhkannya dan atau selama mereka membutuhkan pekerjaan tersebut".
Pekerjaan dan aktivitas yang dilakukan oleh perempuan pada masa Nabi cukup beraneka ragam, sampai-sampai mereka terlibat secara langsung dalam peperangan-peperangan, bahu-membahu dengan kaum lelaki. Nama-nama seperti Ummu Salamah (istri Nabi), Shafiyah, Laila Al-Ghaffariyah, Ummu Sinam Al-Aslamiyah, dan lain-lain, tercatat sebagai tokoh-tokoh yang terlibat dalam peperangan. Ahli hadis, Imam Bukhari, membukukan bab-bab dalam kitab Shahih-nya, yang menginformasikan kegiatan-kegiatan kaum wanita, seperti Bab Keterlibatan Perempuan dalam Jihad, Bab Peperangan Perempuan di Lautan, Bab Keterlibatan Perempuan Merawat Korban, dan lain-lain.
Di samping itu, para perempuan pada masa Nabi saw. aktif pula dalam berbagai bidang pekerjaan. Ada yang bekerja sebagai perias pengantin, seperti Ummu Salim binti Malhan yang merias, antara lain, Shafiyah bin Huyay196 --istri Nabi Muhammad saw. Ada juga yang menjadi perawat atau bidan, dan sebagainya.
Dalam bidang perdagangan, nama istri Nabi yang pertama, Khadijah binti Khuwailid, tercatat sebagai seorang yang sangat sukses. Demikian juga Qilat Ummi Bani Anmar yang tercatat sebagai seorang perempuan yang pernah datang kepada Nabi untuk meminta petunjuk-petunjuk dalam bidang jual-beli. Dalam kitab Thabaqat Ibnu Sa'ad, kisah perempuan tersebut diuraikan, di mana ditemukan antara lain pesan Nabi kepadanya menyangkut penetapan harga jual-beli. Nabi memberi petunjuk kepada perempuan ini dengan sabdanya:
Apabila Anda akan membeli atau menjual sesuatu, maka tetapkanlah harga yang Anda inginkan untuk membeli atau menjualnya, baik kemudian Anda diberi atau tidak. (Maksud beliau jangan bertele-tele dalam menawar atau menawarkan sesuatu).
Istri Nabi saw., Zainab binti Jahsy, juga aktif bekerja sampai pada menyamak kulit binatang, dan hasil usahanya itu beliau sedekahkan. Raithah, istri sahabat Nabi Abdullah ibn Mas'ud, sangat aktif bekerja, karena suami dan anaknya ketika itu tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarga ini.197 Al-Syifa', seorang perempuan yang pandai menulis, ditugaskan oleh Khalifah Umar r.a. sebagai petugas yang menangani pasar kota Madinah.198
Demikian sedikit dari banyak contoh yang terjadi pada masa Rasul saw. dan sahabat beliau menyangkut keikutsertaan perempuan dalam berbagai bidang usaha dan pekerjaan. Di samping yang disebutkan di atas, perlu juga digarisbawahi bahwa Rasul saw. banyak memberi perhatian serta pengarahan kepada perempuan agar menggunakan waktu sebaik-baiknya dan mengisinya dengan pekerjaan-pekerjaan yang bermanfaat. Dalam hal ini, antara lain, beliau bersabda:
Sebaik-baik "permainan" seorang perempuan Muslimah di dalam rumahnya adalah memintal/menenun. (Hadis diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dari Abdullah bin Rabi' Al-Anshari).
Aisyah r.a. diriwayatkan pernah berkata: "Alat pemintal di tangan perempuan lebih baik daripada tombak di tangan lelaki."
Tentu saja tidak semua bentuk dan ragam pekerjaan yang terdapat pada masa kini telah ada pada masa Nabi saw. Namun, sebagaimana telah diuraikan di atas, ulama pada akhirnya menyimpulkan bahwa perempuan dapat melakukan pekerjaan apa pun selama ia membutuhkannya atau pekerjaan itu membutuhkannya dan selama norma-norma agama dan susila tetap terpelihara.
Dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh setiap orang, termasuk kaum wanita, mereka mempunyai hak untuk bekerja dan menduduki jabatan jabatan tertinggi. Hanya ada jabatan yang oleh sementara ulama dianggap tidak dapat diduduki oleh kaum wanita, yaitu jabatan Kepala Negara (Al-Imamah Al-'Uzhma) dan Hakim. Namun, perkembangan masyarakat dari saat ke saat mengurangi pendukung larangan tersebut, khususnya menyangkut persoalan kedudukan perempuan sebagai hakim.
Dalam beberapa kitab hukum Islam, seperti Al-Mughni, ditegaskan bahwa "setiap orang yang memiliki hak untuk melakukan sesuatu, maka sesuatu itu dapat diwakilkannya kepada orang lain, atau menerima perwakilan dari orang lain". Atas dasar kaidah itu, Dr. Jamaluddin Muhammad Mahmud berpendapat bahwa berdasarkan kitab fiqih, bukan sekadar pertimbangan perkembangan masyarakat kita jika kita menyatakan bahwa perempuan dapat bertindak sebagai pembela dan penuntut dalam berbagai bidang.199
Hak dan Kewajiban Belajar
Terlalu banyak ayat Al-Quran dan hadis Nabi saw. yang berbicara tentang kewajiban belajar, baik kewajiban tersebut ditujukan kepada lelaki maupun perempuan. Wahyu pertama dari Al-Quran adalah perintah membaca atau belajar,
Bacalah demi Tuhanmu yang telah menciptakan... Keistimewaan manusia yang menjadikan para malaikat diperintahkan sujud kepadanya adalah karena makhluk ini memiliki pengetahuan (QS 2:31-34).
Baik lelaki maupun perempuan diperintahkan untuk menimba ilmu sebanyak mungkin, mereka semua dituntut untuk belajar:
Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap Muslim (dan Muslimah).
Para perempuan di zaman Nabi saw. menyadari benar kewajiban ini, sehingga mereka memohon kepada Nabi agar beliau bersedia menyisihkan waktu tertentu dan khusus untuk mereka dalam rangka menuntut ilmu pengetahuan. Permohonan ini tentu saja dikabulkan oleh Nabi saw.
Al-Quran memberikan pujian kepada ulu al-albab, yang berzikir dan memikirkan tentang kejadian langit dan bumi. Zikir dan pemikiran menyangkut hal tersebut akan mengantar manusia untuk mengetahui rahasia-rahasia alam raya ini, dan hal tersebut tidak lain dari pengetahuan. Mereka yang dinamai ulu al-albab tidak terbatas pada kaum lelaki saja, tetapi juga kaum perempuan. Hal ini terbukti dari ayat yang berbicara tentang ulu al-albab yang dikemukakan di atas. Setelah Al-Quran menguraikan tentang sifat-sifat mereka, ditegaskannya bahwa:
Maka Tuhan mereka mengabulkan permohonan mereka dengan berfirman: "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik lelaki maupun perempuan..." (QS 3:195).
Ini berarti bahwa kaum perempuan dapat berpikir, mempelajari dan kemudian mengamalkan apa yang mereka hayati dari zikir kepada Allah serta apa yang mereka ketahui dari alam raya ini. Pengetahuan menyangkut alam raya tentunya berkaitan dengan berbagai disiplin ilmu, sehingga dari ayat ini dapat dipahami bahwa perempuan bebas untuk mempelajari apa saja, sesuai dengan keinginan dan kecenderungan mereka masing-masing.
Banyak wanita yang sangat menonjol pengetahuannya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan yang menjadi rujukan sekian banyak tokoh lelaki. Istri Nabi, Aisyah r.a., adalah seorang yang sangat dalam pengetahuannya serta dikenal pula sebagai kritikus. Sampai-sampai dikenal secara sangat luas ungkapan yang dinisbahkan oleh sementara ulama sebagai pernyataan Nabi Muhammad saw.:
Ambillah setengah pengetahuan agama kalian dari Al-Humaira' (Aisyah).
Demikian juga Sayyidah Sakinah putri Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib. Kemudian Al-Syaikhah Syuhrah yang digelari Fakhr Al-Nisa' (Kebanggaan Perempuan) adalah salah seorang guru Imam Syafi'i200 (tokoh mazhab yang pandangan-pandangannya menjadi anutan banyak umat Islam di seluruh dunia), dan masih banyak lagi lainnya.
Imam Abu Hayyan mencatat tiga nama perempuan yang menjadi guru-guru tokoh mazhab tersebut, yaitu Mu'nisat Al-Ayyubiyah (putri Al-Malik Al-Adil saudara Salahuddin Al-Ayyubi), Syamiyat Al-Taimiyah, dan Zainab putri sejarahwan Abdul-Latif Al-Baghdadi.201 Kemudian contoh wanita-wanita yang mempunyai kedudukan ilmiah yang sangat terhormat adalah Al-Khansa', Rabi'ah Al-Adawiyah, dan lain-lain.
Rasul saw. tidak membatasi anjuran atau kewajiban belajar hanya terhadap perempuan-perempuan merdeka (yang memiliki status sosial yang tinggi), tetapi juga para budak belian dan mereka yang berstatus sosial rendah. Karena itu, sejarah mencatat sekian banyak perempuan yang tadinya budak belian mencapai tingkat pendidikan yang sangat tinggi.
Al-Muqarri, dalam bukunya Nafhu Al-Thib, sebagaimana dikutip oleh Dr. Abdul Wahid Wafi, memberitakan bahwa Ibnu Al-Mutharraf, seorang pakar bahasa pada masanya, pernah mengajarkan seorang perempuan liku-liku bahasa Arab. Sehingga sang wanita pada akhirnya memiliki kemampuan yang melebihi gurunya sendiri, khususnya dalam bidang puisi, sampai ia dikenal dengan nama Al-Arudhiyat karena keahliannya dalam bidang ini.202
Harus diakui bahwa pembidangan ilmu pada masa awal Islam belum lagi sebanyak dan seluas masa kita dewasa ini. Namun, Islam tidak membedakan antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu lainnya, sehingga seandainya mereka yang disebut namanya di atas hidup pada masa kita ini, maka tidak mustahil mereka akan tekun pula mempelajari disiplin-disiplin ilmu yang berkembang dewasa ini.
Dalam hal ini, Syaikh Muhammad 'Abduh menulis: "Kalaulah kewajiban perempuan mempelajari hukum-hukum agama kelihatannya amat terbatas, maka sesungguhnya kewajiban mereka untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan rumah tangga, pendidikan anak, dan sebagainya yang merupakan persoalan-persoalan duniawi (dan yang berbeda sesuai dengan perbedaan waktu, tempat dan kondisi) jauh lebih banyak daripada soal-soal keagamaan."203
Demikian sekilas menyangkut hak dan kewajiban perempuan dalam bidang pendidikan.
Tentunya masih banyak lagi yang dapat dikemukakan menyangkut hak-hak kaum perempuan dalam berbagai bidang. Namun, kesimpulan akhir yang dapat ditarik adalah bahwa mereka, sebagaimana sabda Rasul saw., adalah Syaqa'iq Al-Rijal (saudara-saudara sekandung kaum lelaki) sehingga kedudukannya serta hak-haknya hampir dapat dikatakan sama. Kalaupun ada yang membedakan, maka itu hanyalah akibat fungsi dan tugas-tugas utama yang dibebankan Tuhan kepada masing-masing jenis kelamin itu, sehingga perbedaan yang ada tidak mengakibatkan yang satu merasa memiliki kelebihan atas yang lain:
Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain, karena bagi lelaki ada bagian dari apa yang mereka peroleh (usahakan) dan bagi perempuan juga ada bagian dari apa yang mereka peroleh (usahakan) dan bermohonlah kepada Allah dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS 4:32).
Maha Benar Allah dalam segala firman-Nya
Ringkasan Biografi Intelektual
Nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq al-Kindi. Dia lahir di Kufah, Irak, pada 801 M/185 H. Gelar al-Kindi dinisbatkan pada nama suku Kindah di wilayah Arabia Selatan. Dari suku Kindah ini pula, lahir seorang penyair besar bernama Imra`ul Qais (w. ± 540 M). Ayahnya, Ishaq, adalah gubernur Kufah di masa pemerintahan al-Mahdi (775-785) dan al-Rasyid (786-809).
Al-Kindi adalah filosof Arab pertama yang memelopori penerjemahan sekaligus mengenalkan tulisan atau karya-karya para filosof Yunani di dunia Islam, terutama pada abad pertengahan di masa pemerintahan khalifah al-Ma`mun (813-833) yang mengundangnya untuk mengajar di Baitul Hikmah. Al-Kindi hidup di masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, mulai dari khalifah al-Amin (809-813), al-Ma`mun (813-833), al-Mu’tashim (833-842), al-Watsiq (842-847), dan al-Mutawakkil (847-861).
Al-Kindi hidup dalam atmosfer intelektualisme yang dinamis saat itu, khususnya di Baghdad dan Kufah, yang berkembang beragam disiplin ilmu pengetahuan: filsafat, geometri, astronomi, kedokteran, matematika, dan sebagainya. Al-Kindi tidak hanya dikenal sebagai penerjemah, tetapi juga menguasai beragam disiplin ilmu lainnya, seperti kedokteran, matematika, dan astronomi.
Al-Kindi berhasil mengubah sekaligus mengembangkan beberapa istilah yang menarik perhatian para filosof sesudahnya, seperti: kata al-jirm menjadi al-jism; kata at-tawahhum (imaginasi) menjadi at-takhayyul; kata at-thīnah menjadi al-māddah; dsb.
Ketika khalifah al-Mutawakkil memerintah, mazhab resmi negara (yang sebelumnya menganut mazhab/aliran Mu’tazilah) diganti menjadi Asy’ariyah. Dua orang putra Ibnu Syakir, Muhammad dan Ahmad, mencoba menghasut al-Mutawakkil dengan mengatakan bahwa orang yang mempelajari filsafat cenderung kurang hormat pada agama. Al-Mutawakkil kemudian memerintahkan agar al-Kindi didera dan perpustakaannya yang bernama Kindiyyah disita (meski kemudian dikembalikan). Al-Kindi meninggal pada 866 M/252H.
Ringkasan Pemikiran Filsafat.
Menurut al-Kindi, agama dan filsafat tidak mungkin bertentangan. Agama di samping sebagai wahyu juga menggunakan akal, dan filsafat juga menggunakan akal. [dari penulis] Di dalam al-Qur`an disebutkan, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda [āyāt] bagi kaum yang berakal; yaitu mereka yang ber-dzikir dalam keadaan berdiri dan duduk dan mereka yang ber-tafakkur dalam penciptaan langit dan bumi…” (Q.S. ). Yang benar pertama (al-Haqq al-Awwal) adalah Tuhan. Dalam hal ini, filsafat juga membahas soal Tuhan dan agama. Dan filsafat paling tinggi adalah filsafat tentang Tuhan (seperti filsafat skolastik). Bagi al-Kindi, orang yang menolak filsafat bisa dianggap kafir, karena dia telah jauh dari kebenaran, meskipun dirinya menganggap paling benar.
Jika terjadi pertentangan antara nalar logika dengan dalil-dalil agama dalam al-Qur`an, mestinya ditempuh dengan jalan ta`wīl (interpretasi, kontekstualisasi, atau rasionalisasi atas teks-teks keagamaan). Hal ini karena dalam bahasa (termasuk bahaa Arab), terdapat dua makna: makna hakīkī (hakikat, esensi) dan makna majāzī (figuratif, metafora).
Namun demikian, menurut al-Kindi, memang terdapat perbedaan dari segi sumber data (informasi) antara agama dan filsafat. Agama diperoleh melalui wahyu tanpa proses belajar. Sedang filsafat diperoleh melalui proses belajar (berpikir dan berkontemplasi). Sedang dari segi pendekatan dan metode, agama dilakukan dengan pendekatan keimanan, sedang filsafat dilakukan dengan pendekatan logika.
Al-Kindi juga menyinggung soal jiwa manusia. Menurutnya, jiwa tidak tersusun, substansinya adalah ruh yang berasal dari substansi Tuhan. Dalam hal jiwa, al-Kindi lebih dekat dengan pandangan Plato yang mengatakan bahwa hubungan antara jiwa dan badan bercorak accidental (al-‘aradh). Al-Kindi berbeda dari Aristoteles yang berpendapat bahwa jiwa adalah form dari badan.
Menurut al-Kindi, jiwa memiliki 3 daya:
1) jiwa bernafsu (al-quwwah asy-syahwāniyyah);
2) jiwa memarah (al-quwwah al-ghadhabiyyah); dan
3) jiwa berakal (al-quwwah al-‘āqilah).
Selama ruh (jiwa) berada di badan, ia tidak akan menemukan kebahagiaan hakiki dan pengetahuan sempurna. Setelah bepisah dari badan dan dalam keadaan suci, ruh akan langsung pergi ke “alam kebenaran” atau “alam akal” di atas bintang-bintang, berada dilingkungan cahaya Tuhan dan dapat melihat-Nya. Di sinilah letak kesenangan hakiki ruh. Namun jika ruh itu kotor, ia akan pergi terlebih dahulu ke bulan, lalu ke Merkuri, Mars, dan seterusnya hingga Pluto; kemudian terakhir akan menetap ke dalam “alam akal” di lingkungan cahaya Tuhan. Di sanalah jiwa akan kekal abadi di bawah cahaya Tuhan. Bagi yang berbuat durhaka dan kejahatan di dunia, jiwa (ruh) manusia akan jauh dari cahaya Tuhan sehingga dia akan sengsara. Bagi manusia yang berbuat kebajikan, jiwa (ruh) yang dikandungnya dahulu ketika di bumi, akan dekat dengan cahaya Tuhan dan akan hidup bahagia di sisi-Nya.
Demikian sekilas tentang al-Kindi, filosof muslim pertama yang telah berjasa memberi tansformasi intelektual bagi umat Islam dan peradaban manusia. Semoga ringkasan ini bisa memberi ‘warna lain’ bagi pencerahan intelektual dan kedewasaan dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku.

Hari kian sore,cahaya matahari menerangi jingga, angin semilir membelai lembut rambutku. Tanah pemakaman mulai sepi ku bersujud doa di atas pusaran ayahku serangkai kembang kutabur bersama air mataku yang jatuh di atas tanah kubur ayahku.
Hari ini bulan Agustus hari kesebelas tuhan telah memanggil ayahku kembali ke pangkuanya. Kembali teringatdi benaku pesan terakhir ayah,” carilah selalu dan berjalanlah untuk menuju jalan ke surga “.Air mataku kembali menetes dan kuhujukkan doaku unatuk ayah,dan aku beranjak.
Hari terus berlalu tiap malam ada doa bersama di rumahku untuk mendoakan arwah ayah. Banya orang dating untuk mendoakan ayah betapa itu menunjukan ayah adalah seoranggyang cukup di sayangi banyak orang, dan aku sibuk mengurus semua keperluan hingga hari ketuju.
Aku adalah wanita seorang putri dari keluarga seferhana di sebuah kota kecil pangandaran dari lima bersaudara dan aku bernama Mariam. Aku hidup dalam kesederhanaan sejak kecil dan aku juga mempunyai cinta yang sederhana pada seorang laki-laki bernama Andre, dia adalah obsesi dalam hidupku dan kami sempat menjalin asmara selama delapan tahun, walau akhirnya cinta kami tak bisa bersatu. Namun cinta yang sederhana ini masih terus aku simpan entah siapa yang mampu menggantinya
Bayu adalah lelaki yang setahun ini mendampingiku sebagai tunanganku. Kami berdua adalah korban penjodohan dua keluarga yang sejak dulu sangat akrap. Namun tidak kusangkah bahwa ia sangat mencintaiku, walau di hati kecilku aku belum dapat mencintainya, hanya sayanglah yang dapat dapat aku berikan untuknya. Bayu adalah sosok pemuda yang cukup keras dan angkuh, sikap inilah yang membuatku seperti terkekang dalam ikatan yang sulit aku lepaskan. Aku selalu menuruti semua perintah orang tuaku dan untuk itulah aku terus bertahan selama ikatan pertunangan ini.
Ibuku adalah wanita yang sangat mencintai ayahku, dan sejak ayah pergi, cahaya hidup di mata ibu mulai memudar karena sepenuh hatinya telah pergi bersama cinta ayah. Akulah selama ini yang merawat ibu, dan semakin hari kesehatan ibuku semakin menurun . aku ingin seperti ibuku, mempunyai cinta setulus ibu pada ayah. Pada Andre….ah rasanya sudah tak mungkin karena tiga bulan yang lalu ia sudah menjafi milik orang lain untuk selamanya. Hanya misteri alam dan sangan waktu yang mampu menjawab untuk siapakah akan kulabuhkan cintaku yang tulus.
Satu bulan telah berlalu sejak ayah pergi, aku kembali memulai hidup seperti biasanya. Aku adalah tulang punggung keluargaku karena kakak-kakakku semua telah memiliki keluarga masing- masing di luar kota. Aku bekerja dari pagi hingga sore sebagai karyawati di sebuah bank di kota kecilku. Selain bersama bayu aku mempunyai hiburan asyik di sebuah tempat kecil di pojok kotaku, disana aku bisa berkenalan dengan banyak orang melalui internet.
“chating” dari sinilah ternyata misteri hidupku bermula dan dimana cintaku harus berlabuh. Soreh itu sepulang kerja ku sempatkan mampir di sebuah warnet dan aku mulai membuka room Surabaya, mulai banyak kenalan baru yang menyapa. Hai….hai….hai”klik” dan aku tertarik pada suatu ID yang unik Blue_Ocean. Samudraberwarna biru yang penuh misteri dan tergambar kesepian yang dalam.
“ hai juga”, sapa aku
asal dong? Berapa umurnya?
Pangandaran,30 tahun……..kamu?
Sama…aku aku juga 30 tahun…….dari malang
Nama kamu?
Maria……kamu?
Tora….kamu kerja dimana?
Aku pegawai bank…….kamu kerja dimana?
Aku seorang sirektur muda di sebuah biro jasa
Wow….hebat ni….mana pic kamu?
He….gak pasang pic…..malu dan jaga image saja…
We…segitunya pak direktur…..kalo pic aku dah kelihatan lom??
Udah….lumanyan imut……seperti baru 26 tahun.
Makasih …….terlalu memuji ah….
Bener…..kita ngobrol yuk….ada head set????
Ada…. bentar ya…..kamu call aku ok…..
Ok…..
Hai Maria……..
Hai tora…..lam kenal ya……
Iyah…lam kenal juga…..suara kamu merdu deh…
He….he……sama suara kamu juga renyah……
Emang kerupuk Maria…….
He….ya gak, enak aja suara kamu di denger.
Tora….. emang lom nikah???
Belum…tapi udah ada tunagan……..
Waw sama kalo gitu…..aku juga uda punya tunangan
Wo emang tunangan Maria gak marah…….kalo Maria chat gini
Wa….ya marah……..makanya jangan tau…….he…..
Awas kalo ketahuan.
Wah….. bisa gawat kalo ketahuan
Satu jam terasa ngobrol dan terasa seperti teman akrab yang sudah lama kenal. Bagiku tora adalah lelaki yang menarik dan nyambung di ajak ngobrol, ya walaupun aku belum tau gimana wajahnya tapi suaranya cukup membuatku tau dia adalah lelaki yang baik. Setelah kami saling berpamitan dan off aku langsung pulang ke rumah. Ternyata bayu sudah menunggu di rumah.
Dari mana, tumben baru pulang?
Dari rumah Wulan, dah lama mas?
Ya lumayan satu jam, bisa malam ini pergi makan di luar?
Boleh….mau makan di mana?
Makan sate kambing ya, tempat bu Mul.
Tapi aku pengen makan soto mas…..
Wah kamu.kan kau yang ngajak makan di luar jadi kita makan sate saja ya….. besok baru makan soto oke……
Ya udah deh gak apa-apa….padahal dalam hatiku males banget aku gak suka sate kambing…….ih dasar egoist tuh bayu.
Hari ini aku kerja dengan semangat karena nanti sore aku ada janji chatting dengan tora.
Entah mengapa aku jadi merasa senang dan berdebar,rasanya ingin cepat pulang dan mampir ke warnet.
Ah….apa sebenarnya yang terjadi, kangenkah aku padanya.
Kok jadi bisa banget aku kan gak pernah lihat wajahnya, tapi suaranya buat aku merasa nyaman, wah… sudah benar-benar gila. Aku masak bisa kangen sama suaranya???
Sore ini aku chatting dengan Tora bahagia banget rasanya ada kesejukan di hatiku,aku merasa Tora merasakan hal yang sama.
Ah…..tapi mana mungkin dia juga sudah bertunangan, masak iya dia ingin lihat wajah ku yang katanya manis ….. tersanjung banget aku.Yah ….. yag penting aku sekarng punya teman chatting yang asyik banget.Tora…. kenapa kau penuhi hariku dengan tawamu yang tergiang terus di telinga ku. Tora….Tora…..
Hari ini Minggu, aku pergi ke gereja bersama Bayu. Dan entah kenapa hatiku berkecamuk. Aku bersama Bayu tapi kenapa dalam hatiku bergema nama Tora.
Oh…Tuhan apa yang terjadi padaku mungkinkah secepat ini aku jatuh cinta, getar-getar yang dulu pernah ada bersama Andre kini menggelitik hatiku lagi. Aku bingung di lema hatiku, Bayu adalah tunanganku dan ia seiman denganku dan aku juga harus berbeda keyakinan….aku bingung Tuhan tolong beri aku petunjuk apa yang harus aku lakukan.
Tanpa terasa sudah tiga bulan aku dan Tora saling berbagi cerita lewat chatting, aku semakin merasakan betapa kian hari aku merindukannya. Sehari saja nggak chatting sama Tora membuat aku bingung, dan hari ini aku sungguh- sungguh terkejut….Tora mengatakan bahwa ia mencintaiku…..apa sebenarnya ini.aku dan dia sudah sama-sama mempunyai tunangan kenapa harus ada cinta, dan akhirnya aku tau bahwa Tora yang bertunangan dengan seorang gadis yang sudah sangat berjasa pada Tora yang mendampinginya dari usahanya yang kecil dan sekarang sudah menjadi besar.
Mas Tora…emang kamu nggak mencintainya???
Aku sayang…..tapi akku jatuh cinta sama kamu Maria……
Dari pandangan pertama…..kamulah wanita impianku……..
Wajahmu……..suaramu….dan perhatianmu membuatku gila……..
Tapi……bagaimana dengan tunanganmu???
Aku bingung…..aku gak bisa ninggalin dia…..
Dia sangat berjasa buatku……
Yah sudahlah….biarlah ini mengalir saja………….
Toh….kita gak akan bertemu kan….ini hanya dunia maya.
Maria…..Maria……tapi aku ingin kita bener-bener bertemu.
Mas Tora…..biar sang waktu yang akan menjawab itu.
Hari ini 24 Desember aku bersama keluarga besarku pergi misa kudus malam natal, dan malam ini kuhunjukan doa pada Tuhan memberikan aku jalan untuk cinta yang kupilih. kami semua bahagia rumah begitu ramai kakak-kakakku bersama anak-anaknya
Membuat Natal ini begitu terasa indah. Namun pada Natal ketiga kami di kejutkan pada kondisi ibuk yang memeburuk, ibu terkena stroke dan harus di rawat di rumah sakit, kami semua merasa sedih karena ibu sangat menurun kesehatanya, bahkan ibu sering menyebut nama ayah……..membuat kami merasa merinding…….
Lebih menyakitkan lagi pada tiga hari sesudahnya ibu pergi kepada Tuhan…..kembali keluarga kami dalam kedukaan beberapa bulan lalu ayah pergi dan sekarang ibu harus pergi juga meninggalkan kami. Begitu besarkah cinta ibu pada ayah hingga harus menyusulnya.
Kini aku sendiri hanya Bayu yang aku punya di sampingku, dan tentu saja Toraku di dunia maya yang selalu menemani kesepian hatiku, karena aku tau bahwa akupun telah mencintainya…..walaupun sekarang kau belum bias memilih. Aku hanya dapat berharapsuatu saat aku bias persembahkan cinta pada Tora, namun untuk saat ini aku benar-benar tidak tau kubawa kemana arah hidupku
Sore ini sepulang kerja kembali ku temui Torahku di dunia maya dan kuungkapkan padanya bahwa akupun mencintainya……hari ini kami sangat bahagia…..walau kami masing-masing bingung bagaimana penyelesaian semua ini akan dibawa kemana hubungan ini. Hari ini chatting kami akhiri dengan perasaan yang sama-sama
Bingung……berkecamuk……dilemma, dan aku pulang dengan kegelisahan kubawah di hatiku.
Bayu sudah menungguhku di muka pintu.
Dari mana!!! Bentaknya
Hmm…….belum sempat ku jawab
Chatting!!!
Aku tersentak kaget dari mana dia tau oh……..mampus aku!
Iya……..
Bisa-bisanya kamu menduakan aku!!
Nggak kok aku cuman iseng
Iseng??? Lalu manfaatnya buat kamu!!!buat hubungan kita!
Iya maaf aku salah
Gak taukah kamu, aku udah bener- bener memperjuangkan pertunangan kita?
Dari aku nggak cinta kamu sampai akhirnya aku sangat mencintai kamu!
Atau ……….kamu yang sebenarnya nggak cinta sama aku???
Aku nggak berani menjawab dan diam saja karena sejujurnya……..iya ……
Aku nggak mencintaimu Bayu……..
Pertengkaran itu berhenti dengan satu kesepakatan bahwa aku nggak akan chatting lagi, itu janjiku pada Bayu
Walau dadaku terasa sesak dan mau meledak bahwa aku harus berhenti berkomunikasi dengan orang yang sunggu aku cintai
Aku membuat keputusan ini semata-mata karena ini adalah perintah orang tuaku dan juga karena Bayu seiman denganku……….sedangkan Tora ……apa mungkin aku yang begitu taat pada agamaku mengikuti jalan Tora. Walau akuu bukanlah orang yang fanatic namun ini menjadi pertimbangan besar dalam hidupku.
Melalui E-mail ku kabarkan pada Tora aku pamit, aku ingin menata lagi hatiku yang kacau dan aku berjanji padanya jika memang tuhan menghendaki kau bersatu denganya maka aku akan berlari meraihnya. Tora sangat kecewa, dan dia berjanji menungguhku sampai waktu benar-benar mempertemukan kami.
Enam bulan telah berlalu, aku nggak perna dengar kabar dari Tora aku juga nggak perna lagi ke warnet,karna aku sudah berjanji pada Bayu. Namun sebenarnya bayangan Tora tak perna hilang dari ingatanku bahkan sudah tertanam dalam hatiku. Hubunganku dengan Bayupun tak ada kemajuan aku tetap gak bisa mencintainya dan di seolah-olah gak berusaha membantu aku mencintainya. Hatiku dalam kesepian teramat dalam,sedalam samudra biru.
Sore ini adiku dating.
Mbak……tadi aku buka ID mu kamu dapat email dari Tora
Maria sayang……….
Aku harus mengabarkan ini padamu
Besok di bulan juli tanggal 10 aku akan menikah
Enam bulan sudah berlalu sejak kita tidak bisa bicara lagidan aku memberanikan diri untuk menikahinya.
Dia adalah wanita yang selama ini temendampingiku
Bahkan aku sudah menceritakan tentangmu padanya
Dan jika memang Tuhan menghendaki dia tidak keberatan berbagi denganku.
Maria…….bukankah kamu pernah bilang bahwa kamu tidak perna bilang bahwa kamu juga tidak menentang poligami
Aku berharap kamu tidak merubah pandangamu tentang poligami
Sungguh aku menunggumu……untuk membawamu ke tanah suci
Dimana kita bisa menyatukan cinta kita.
Walau kau bukan orang pertama tapi kau di hatiku kau adalah cintaku
Maria…….doakan aku ya…….
Ingatlah bahwa aku sangat mencintaimu dan selalu menunggumu.
Peluk hangat dariku…….
Tora
Tak terasa satu titik air mata jatuh……dia akan menikah
Sanggupkah aku berbagi……..anggupkah aku mengikuti jalangya……
Tora………tora…..dalam hatiku hanya mencintaimu.
Genap satu tahun ayah meninggal, dan malam ini kami berdoa bersama umat lainyah
Untuk mendoakan arwah ayah.
Setelah selesai berdoa bersama, Bayu mendekatiku
Maria……..bisa kita bicara
Iya…… apa mas??
Kita akhiri pertunagan ini Maria……..
Mas……???
Sudahlah aku tahu dimatamu tidak pernah berbinar cinta untukku.
Entah untuk siapa cintamu, untuk Andre……,.atau lelaki lain
Aku nggak tau, jadi biarlah aku pergi untuk mencari cinta dalam hidupkui.
Maafkan aku mas…..aku nggak bermaksud menyakitimu
Muach……Bayu mengecup keningku dan meninggalkanku yang tertegun.
Hatiku berlari sangat kencang……..aku menuju warnet
Segera”klik” ku buka Bloe_ocean.
Hai……….mas Tora….apa kabar?
Maria……..kok kamu chat?
Muach………muach……..aku bebas mas
Maksudnya!!!
Aku dan mas bayu tidak bersama lagi.
Maria……jadi….?
Bolehkah aku meraai cintaku padamu…….mas?
Oh……Maria, bukankah kau tau aku menunggumu
Tapi Mas…..kan baru sebulan menikah.
Ya….iyalah…..emang besok kita langsung menika?
He……ya gak se….
Trus apa mbak mau di poligami?
Pandanganmu dan tentang poligami sama dan dia mau berbagi.
Iya….deh kau akan mulai mempersiapkan hatiku untukmu.
Oh…..aku bahagia banget mas……..muach…….
Kamis 3Sebtember adalah hari puasa ke tiga di bulan Ramadhan, aku sudah ada dalam pesawat menuju Bandara juanda Surabaya. Dimana sudah menunggu seorang yang kucinta mas Tora, perjalanan hampir dua jamseakan lama sekali, akhirnya pesawat landing dan aku keluar dari pesawat. Kucari papan nama bertulisan Maria tapi gak ada.
Aku terdiam……mana mas Tora gak menjemputku? Tiba-tiba ada seorang merangkulku dari belakang, selamat datang Mari………..aku Toramu. Aku tertegun menatap wajah yang ternyata tampan dari yang aku bayangkan. Meluncur dari bibirku…….
Siapa nama anak lelaki kita?
Maria……..kamugak percaya aku ini Tora?
Kalau kamu mas Tora jawab pertanyaanku.
Tosca saying…………….
Dimana kesepian hatiku berada?
Ayolah Maria kok jadi tebak-tebakan…….
Jawab dulu………… dong
Di kedalaman samudra atlantik
Dan kuhambarkan diriku dalam rengkuhan kasihnya.
Rindu yang membara telah menemukan labuhanya
Hari demi hari ku lalui di sebuah pondok kecil di tepi telaga tempat yang sangat indah.pondok yang di berikan mas Tora untukku. Aku suda berkenalan dengan mbak Ratih dia ayu dan sangat baik. Pantas saja dia setia mendampingi mas Tora. Aku mulai belajar arti puasa dan mendalami agama islam.walau aku belum siap untuk sholat namun aku terus berusaha dan mas Tora dengan penuh cinta membimbingku.
Puasa ini benar-benar kuhabiskan penuh cinta, mas Tora biasa saur dengan mbak Ratih, dan baru buka puasa denganku sebentar, dan kembali lagi kerumah untuk tarawih sama mbak Ratih. Hari-hari ku lalui seperti itu dan aku mulai terbiasa dengan kehadiran mas Tora dan berbagi dengan mbak Ratih. Aku belum siap untuk ikut sholat ied jari aku beres-beres rumah dan mempersiapkan makanan dan hidangan kue lebaran sepulang sholat ied mas Tora sudah duduk di kursinya dan mbak ratih sungkem di pangkuanya, aku merinding apakah aku telah melakukanya? Aku kan belum menjadi istrinya. Aku mendekati mas Tora dan hanya berani bersalaman dan mencium tanganya.
November 27 aku dan mas Tora. Berangkat ke tanah suci, aku bersujud di pangkuan mbak Ratih untuk meminta restunya agar aku dapat menikah dengan mas Tora di tanah suci. Kami berpelukan dan air mata kami berlinang mungkin karena dua hati kami berkecamuk.
Setelah semuanya siap kamu akan melangsungkan pernikahan dan di hari inilah untuk pertama kalinya kuucapkan syahadat” Bismilah Hirohma Hirohim, asaduhallah ha ila hailallah,muhamma dar Rosul Allah”,
Seluruh tubuhku bergetar dan sinar kedamaian memasuki ruang hatiku.
Kukuatkan hatiku melangsungkan pernikahan ini hingga usai
Aku mencium tangan mas Tora dan bersimpu sujud di pangkuanya
Maria……kau telah jadi istriku sekarang
Maukah kau jadi julaihaku saying
Aku tak kuasa menjawab air matakulah yang dapat mengartikanya semuanya. Aku tergiang kembali pesan ayah” carilah selalu dan berjuanglah untuk menuju karena tanah suci ku temukan kedamaian dan mukjizat cinta Allah yang dicurahkan melalui kamu mas…….
Kecupan mesra di keningku sudah mewakili semua jawaban mas Tora, dan tubuhku tenggelam dalam rengkuhannya yang mesra dan damai.